Asal-Usul dan Makna Nama "Angguk"
Sejarah Tari Angguk cukup unik karena dipengaruhi oleh interaksi budaya di masa lalu. Kesenian ini diyakini terinspirasi dari pesta dansa para tentara dan opsir Belanda saat mereka menduduki wilayah Purworejo yang berbatasan langsung dengan Kulon Progo.
Pada awal perkembangannya, tarian ini hanya dibawakan oleh penari laki-laki. Namun, sebuah inovasi terjadi pada tahun 1991 ketika pementasan dengan formasi penari perempuan diperkenalkan. Gaya menari perempuan ini ternyata dinilai sangat menghibur dan sukses membuat Tari Angguk semakin populer di wilayah Temon, Kokap, Girimulyo, hingga Sentolo.
Nama "Angguk" sendiri diambil dari gerakan khas para penarinya yang sering mengangguk-anggukkan kepala. Gerakan sederhana namun ritmis ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen padi yang melimpah, dirayakan di bawah terangnya sorot bulan purnama.
Keunikan Elemen
PertunjukanPertunjukan Tari Angguk memiliki karakteristik ikonik yang membedakannya dari tarian tradisional Jawa pada umumnya. Perpaduan gaya militer Belanda dengan kearifan lokal terlihat sangat jelas pada elemen-elemen berikut:
| Elemen Kesenian | Detail Pertunjukan |
| Jenis Tarian | Dibagi menjadi Tari Jejeran (dilakukan berkelompok) dan Tari Pasangan (berdua dengan berbagai lakon seperti Ikan Cucut, Es Lilin, hingga Umarmoyo). |
| Busana Ikonik | Kemeja hitam kerah Shanghai berhias, celana pendek, kacamata hitam, topi hitam bersulam, kaos kaki, serta selendang batik di pinggang. |
| Formasi Pemain | Umumnya melibatkan 16 penari, 2 penembang (penyanyi), 13 pemusik, dan 1 orang sesepuh untuk menjaga kelancaran ritual spiritual pementasan. |
| Alat Musik | Perpaduan instrumen tradisional (bedug, kendang, rebana, saron, kecrek) dan alat musik modern (organ dan drum). |
Filosofi Mendalam Bagi Masyarakat
Sebagai kesenian rakyat, Tari Angguk tidak lepas dari nilai-nilai kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan. Terdapat dua filosofi utama di dalam tarian ini:
- Ekspresi Masyarakat Agraris: Karena sebagian besar masyarakat Kulon Progo adalah petani, tarian ini sangat lekat dengan adat pertanian. Sebelum pementasan dimulai, selalu ada doa memohon keselamatan kepada Tuhan dengan menyertakan simbol-simbol khas agraris.
- Media Dakwah: Tarian ini diiringi oleh lantunan syair dan selawat bernafas Islam. Tujuannya adalah menyebarkan pesan moral secara halus agar masyarakat senantiasa berada di jalan yang benar.
Tari Angguk adalah bukti nyata bagaimana sejarah, syukur, dan nilai moral dapat dilebur menjadi satu pertunjukan seni yang indah.
.jpg)
Posting Komentar
Posting Komentar
- Tuangkan saran maupun kritik dan jangan meninggalkan Spam.
- Berkomentarlah dengan bijak sesuai dengan konten yang tersedia.
- Tidak Boleh Promosi