11 Tradisi dan Kebiasaan Masyarakat Jawa yang Kian Tergerus Zaman

Masyarakat Jawa dikenal memiliki akar budaya dan tata krama yang sangat kuat. Namun, seiring dengan laju modernisasi dan pengaruh budaya luar, banyak kebiasaan sehari-hari yang dahulu menjadi identitas orang Jawa kini mulai memudar dan jarang ditemui. Istilah "Wong Jowo ilang Jawane" (Orang Jawa kehilangan karakter Jawanya) sepertinya makin relevan saat ini.

Mari kita napak tilas, apa saja tradisi dan tata krama keseharian masyarakat Jawa yang kini mulai ditinggalkan:

Petanan (Mencari Kutu Rambut)

Dahulu, petanan bukan sekadar urusan membersihkan kepala dari kutu. Aktivitas yang sering dilakukan kaum perempuan di waktu luang ini merupakan ajang interaksi sosial yang erat. Sambil mencari kutu, mereka saling bertukar cerita, mempererat keakraban antar tetangga, maupun ikatan antara ibu dan anak. Kini, kebiasaan ini nyaris hilang. Orang lebih memilih perawatan rambut instan di salon atau spa. Meski kebersihan rambut masyarakat modern sudah jauh lebih baik, hilangnya tradisi ini turut mengurangi momen keakraban komunal yang hangat di lingkungan bertetangga.

Mangan Muluk (Makan Langsung dengan Tangan)

Puluk atau muluk adalah tradisi makan menggunakan tangan kosong (kelima jari dikuncupkan). Di masa lampau, keterbatasan alat makan membuat kebiasaan ini lumrah. Meski saat ini sendok dan garpu sangat mudah didapat, makan dengan cara muluk sebenarnya memberikan sensasi nikmat yang berbeda. Kita bisa merasakan tekstur makanan secara langsung sekaligus melatih kesabaran dalam menakar lauk dan nasi agar tidak berceceran. Sayangnya, banyak yang kini enggan muluk karena dianggap kurang sopan atau kampungan, padahal ini adalah wujud kesederhanaan.

Makan Beralaskan Pincuk

Pincuk adalah wadah makanan dari daun pisang yang disematkan lidi hingga membentuk kerucut di bagian bawah. Dulu, pincuk sangat populer, terutama bagi petani di sawah karena praktis, tidak mudah pecah seperti piring tanah liat, dan daun pisang mudah didapat. Makan dengan pincuk juga dipercaya menambah aroma nikmat pada makanan. Di era serba plastik dan piring keramik, pincuk semakin tersingkir. Kini kita hanya bisa menemuinya di penjual makanan tradisional seperti pecel atau sego liwet. Padahal, penggunaan daun pisang jauh lebih sehat dan ramah lingkungan dibandingkan plastik.

Lungguh Sila (Duduk Lesehan di Bawah)

Duduk bersila di atas tikar atau langsung di tanah merupakan tradisi lazim masyarakat Jawa saat berkumpul, makan, hingga mengaji. Bagi pria posisinya bersila (menyilangkan kaki), sedangkan bagi perempuan kedua kaki ditekuk ke samping demi menjaga kesopanan, mengingat zaman dulu mereka memakai kain jarik. Bertamu dengan cara duduk di bawah dulu dianggap lebih sopan. Namun sekarang, orang jauh lebih memilih duduk nyaman di atas kursi empuk atau sofa, sehingga kebiasaan lesehan ini perlahan memudar, kecuali di wilayah pedesaan.

Jarikan (Memakai Kain Jarik)

Jarik adalah kain batik panjang yang dililitkan di pinggang hingga menutupi kaki. Dulu, jarik adalah busana harian kaum perempuan (dan pria pada acara tertentu) yang mengajarkan keanggunan dan kesopanan. Motifnya bahkan bisa menunjukkan status sosial pemakainya. Sayangnya, kaum muda sekarang menganggap jarik terlalu ribet dan memakan waktu. Pemakaiannya pun bergeser, dari pakaian harian menjadi pakaian khusus acara seremonial seperti pernikahan atau wisuda, sementara keseharian tergantikan oleh daster, rok, atau celana.

Gelungan (Tatanan Rambut Sanggul)

Wanita Jawa zaman dulu identik dengan rambut panjang yang diikat dan digulung rapi membentuk cepol (sanggul sederhana). Tujuannya agar rapi dan tidak gerah saat beraktivitas sehari-hari. Kini, kepraktisan menjadi alasan utama banyak perempuan memotong pendek rambutnya atau sekadar mengikatnya dengan karet rambut biasa. Gelungan harian sudah sangat jarang ditemui, kecuali pada nenek-nenek sepuh di pedesaan atau saat ada acara adat.

Mlaku Mbungkuk (Berjalan Menunduk di Depan Orang Tua)

Sopan santun adalah denyut nadi budaya Jawa, salah satunya etika saat berjalan melewati orang yang lebih tua. Orang Jawa akan sedikit membungkukkan badan, menurunkan satu tangan ke bawah, sambil berucap "Nyuwun sewu, nderek langkung" (Permisi, ikut lewat). Gerakan ini adalah simbol penghormatan tertinggi. Ironisnya, anak muda zaman sekarang banyak yang sudah kehilangan rasa "perkewuh" (sungkan). Mereka kerap melenggang begitu saja di depan orang tua tanpa permisi, sebuah imbas dari pudarnya tata krama lokal oleh budaya luar.

Unggah-Ungguh Bahasa Jawa (Tata Krama Berbahasa)

Bahasa Jawa memiliki hierarki yang rumit namun indah: Ngoko (kasar/akrab), Madya (menengah), dan Krama (halus/resmi). Penggunaannya disesuaikan dengan umur, kedudukan, dan tingkat keakraban. Menguasai bahasa Jawa menuntut seseorang untuk berhati-hati dalam berucap ("Ajining diri soko lathi" - harga diri seseorang berasal dari lidahnya). Sayangnya, karena dianggap rumit, banyak generasi muda yang tak lagi fasih berbahasa Krama. Banyak anak yang berbicara Ngoko kepada orang tuanya—sebuah hal yang di masa lalu dianggap sangat tabu. Pembiasaan sejak dini adalah kunci agar bahasa ibu ini tidak punah.

Nasihat "Ora Ilok" (Pantangan/Pamali)

Orang tua zaman dulu sangat mahir menasihati anak lewat kiasan "Ora ilok" (Tidak baik/Pamali). Contohnya, "Ora ilok mangan karo ngomong" (pamali makan sambil bicara) yang sebenarnya mendidik anak agar tidak tersedak dan menjaga etika di meja makan. Ada pula "Ora ilok bocah wedok lungguh jigang" (pamali perempuan duduk mengangkat kaki) untuk mengajarkan kesopanan. Ajaran moral yang diselipkan lewat mitos ini kini jarang didengar karena orang tua modern perlahan meninggalkan pola asuh gaya lama ini.

Menulis Aksara Jawa (Hanacaraka)

Aksara Jawa (Dentawyanjana) terdiri dari 20 huruf dasar (dari Ha hingga Nga). Meski saat ini aksara Jawa sudah terintegrasi dengan font di komputer dan ponsel pintar, ironisnya kemampuan menulis aksara Jawa secara manual (tulisan tangan) justru merosot tajam. Kecanggihan teknologi memang memudahkan, namun di sisi lain membuat generasi muda malas berlatih. Jangankan menulis dengan tangan, membaca aksara Jawa saja kini banyak yang sudah kesulitan.

Nuntun Kendaraan di Halaman Orang Lain

Ada etika tak tertulis yang sangat dijunjung tinggi orang Jawa: saat melintasi halaman rumah orang lain, kita wajib turun dan menuntun kendaraan kita (baik itu sepeda onthel maupun motor). Kendaraan baru boleh dinaiki lagi setelah keluar dari pekarangan. Etika ini adalah bentuk permisi dan penghormatan kepada si pemilik rumah. Di masa kini, sikap nranyak (kurang ajar) makin sering ditemui, di mana orang melintas nyelonong begitu saja tanpa mematikan mesin atau turun dari kendaraannya.

Wong Jowo ojo nganti ilang Jawane. Budaya-budaya luhur yang mengajarkan kesopanan, gotong royong, dan penghormatan di atas bukanlah hal yang kuno. Justru tradisi inilah yang menjadi tameng identitas bangsa. Sudah sepatutnya kita mulai mengenalkan dan mempraktikkan kembali nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber Referensi Literatur:

  • Rustopo. 2007. Menjadi Jawa. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
  • Supono. 1998. Kemahiran Bahasa Jawa I. Surakarta: UNS.
  • Zaairul Haq, Muhammad. 2011. Mutiara Hidup Manusia Jawa. Malang: Aditya Media Publishing.

Semoga artikel 11 Tradisi dan Kebiasaan Masyarakat Jawa yang Kian Tergerus Zaman bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar

Baca Artikel Informasi Lainnya

  • Memuat artikel...
Subscribe Our Newsletter