-->

Ads 720 x 90

Tradisi Ganti Jaro di Masjid Saka Tunggal

13201990941366682854Berbagai cara dilakukan warga untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Di Desa Cikakak Kecamatan Wangon Banyumas, Senin (20/07), umat muslim menggelar ritual ganti pagar bambu atau mereka sebut ganti jaro rajab salah satu makam kyai penyebar agama Islam. Ritual yang digelar setiap setahun ini memiliki makna yang dalam yakni untuk membersihkan diri dari sifat jahat.
Para warga ini, sejak pagi telah berdatangan menuju makam Kyai Toleh yang terletak di area masjid saka tunggal. Mereka dengan suka rela membawa bambu yang akan digunakan untuk membuat pagar pengganti pagar yang lama.
Dengan bergotong royong, para warga ini membelah dan membersihkan bambu yang akan digunakan sebagai pagar. Rasa kebersamaan inilah, yang masih diperlihatkan warga saat hendak menggelar ritual ganti jaro rajab ini. Mereka saling berbagi pekerjaan. Ada yang memotong, ada juga yang membelah. Bambu-bambu ini dipotong dan dibelah dengan ukuran panjang sekitar satu meter.
Sebelum dipasang, potongan bambu yang telah dibelah ini, kemudian dicuci terlebih dahulu. Pencucian dilakukan di sungai pintu masuk makam. Hal ini dimaksudkan agar bambu yang akan dipasang sebagai pagar, terbebas dari kotoran.Kemudian warga pun muali memasang pagar bambu.di mulai dari makam Kyai Toleh yang terletak di atas bukit.
Ada beberapa pantangan yang harus ditaati oleh warga saat membuat pagar bambu ini. Mereka dilarang berbicara dnegan suara keras, serta tidak boleh mengguanakan alas kaki. Sehingga, saat pengerjaan penggantian pagar bambu ini, tak terdengar suara warga. Yang muncul hanya suara dari pagar bambu yang dipukul warga.
Karena pengerjaan penggantian pagar bambu ini dilakukan oleh ratusan warga, maka pengerjaanya pun berjalan cepat. Bahkan, pagar bambu sepanjang 300 meter yang juga berada di lokasi taman kera ini, bisa diselesaikan dalam waktu dua jam.
Selain memiliki makna kebersamaan dan gotong royong, tradisi ganti jaro rajab ini juga untuk menghilangkan sifat jahat dari dalam diri manusia.
Menurut Bambang Jauhari, juru kunci Masjid Saka Tunggal Cikakak, setelah pengerjaan penggantian pagar selesai, ribuan warga pun mulai melakukan ziarah ke makam. “Sebelum memasuki areal makam, para warga ini melakukan persembahan dan sungkem, mereka juga melepas alas kaki. Ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun, ” ujar Bambang.

Nama resmi masjid ini adalah Masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut.
13201994071695130682Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288M, 2 abad sebelum Wali Songo. Sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia.
Lokasi
Masjid Masjid Saka Tunggal Baitussalam berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Banyumas. Ditengah suasana pedesaan Jawa yang begitu kental. Di kawasan masjid yang dipenuhi dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. Bangunan masjid juga sangat unik, beratapkan ijuk serta sebagian dindingnya dari anyaman bambu.
Sejarah Masjid Saka Tunggal
Masjid ini dibangun pada tahun 1288 Masehi sebagaimana tertulis di prasasti yang terpahat di saka masjid itu lebih tua dari kerajaan majapahit yang berdiri tahun 1294 Masehi, masjid ini berdiri ketika masa kerajaan singasari  dan merupakan masjid tertua di indonesia.
Sejarah Masjid Saka tunggal senantiasa terkait dengan Tokoh penyebar Islam di Cikakak, bernama Mbah Mustolih yang hidup dalam Kesultanan Mataram Kuno. Itu sebabnya, tidak heran bila unsur Kejawen masih cukup melekat. Dalam syiar Islam yang dilakukan, Mbah Mustolih memang menjadikan Cikakak sebagai “markas” dengan ditandai pembangunan masjid dengan tiang tunggal tersebut. Beliau dimakamkan tak jauh dari masjid Saka Tunggal.

Tradisi Unik Masjid Saka Tunggal, Banyumas
Zikir seperti melantunkan kidung jawa
Keunikan masjid saka tunggal Banyumas, benar benar terasa di hari Jum’at. Selama menunggu waktu sholat jum’at dan setelah sholat jum’at, Jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura ura.
Pakaian Imam dan muazin
Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiyah, tapi menggunakan udeng/pengikat kepala. khutbah jumat disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung,
Empat muazin sekaligus
Empat orang muazim berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan adzan secara bersamaan.
Semuanya dilakukan berjama’ah
Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur. Semuanya dilakukan secara berjamaah.
Tanpa Pengeras Suara
Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. Meski demikian suara azan yang dilantunkan oleh empat muazin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu dari masjid ini.
Ritual Ganti Jaro, Masjid Saka Tunggal

Arsitektur Masjid Saka Tunggal, Banyumas
Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi. Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia.
Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,”
Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.
Keaslian yang masih terpelihara adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit.
Kekhasan yang lain adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok.

Renovasi dan Benda Benda Peninggalan
Sejak tahun 1965 masjid ini sudah dua kali dipugar. Selain dinding tembok, juga diberi dinding anyaman bambu serta lapisan atap seng, Meski sebagian dinding telah direhab dengan tembok, tetapi arsitektur masjid tetap tidak diubah. Sehingga tidak ada perbedaan bentuk yang berarti dari awal berdiri hingga sekarang. Sedangkan tiang dari kayu jati yang menopang bangunan utama masjid dengan ukuran masih terlihat begitu kokoh. Selama ratusan tahun berdiri, warga dan jamaah di Cikakak sama sekali tidak mengganti bangunan utama yang ada di tempat itu, kecuali hanya membangun tembok sekeliling masjid sebagai penopang. Barang lainnya yang sampai sekarang masih tetap rapi dan dipelihara di antaranya adalah bedug, kentongan, mimbar masjid, tongkat khatib dan tempat wudlu.

Status
Sebagaimana tertulis dalam papan peringatan di sekitar masjid, tertulis bahwa, Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Desa Cikakak, Kabupaten Banyumas merupakan Benda Cagar Budaya/Situs dengan nomor 11-02/Bas/51/TB/04 dan dilindungi undang undang RI No. 5 tahun 1992 dan PP nomor 10 tahun 1993.

sumber
Sumber
Sumber
Semoga artikel Tradisi Ganti Jaro di Masjid Saka Tunggal bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter