-->

Ads 720 x 90

Kenduren sebuah tradisi yng sangat merakyat



 
Kota-kota besar bisa memberi kemakmuran materi, tapi tak ada yang menjanjikan rasa damai seperti dalam sebuah kenduri. Inilah sebabnya, negeri kita sekarang terasa gersang, keras, dan agresif.
 Sebuah wacana
Kenduri atau kenduren/selametan adalah tradisi yang sudah turun temurun dari jaman dahulu, yaitu do’a bersama yang di hadiri para tetangga dan di pimpin oleh pemuka adat atau yang dituakan di setiap lingkungan, dan yang di sajikan berupa tumpeng, lengkap dengan lauk pauknya. Tumpeng dan lauknya nantinya di bagi-bagikan kepada yang hadir yang di sebut carikan ada juga yang menyebut dengan berkat.
Kenduri demi kenduri, di mana para di desa berkumpul, untuk mengaminkan —memperkuat dengan dukungan doa— segenap cita-cita tetangga, yang kita anggap cita-cita “kita” juga karena tetangga bukan “mereka”, melainkan “kita”.
Dalam kenduri tiap orang menjadi “kita”. Kepala desa, siapa pun dia, apa pun agama dan aliran politiknya, dia itu “kita”. Dan karena itu maka dia wajib didukung, kelemahannya ditutup, kekurangannya ditambah, aibnya jangan dibeberkan ke mana-mana karena bukankah aib kepala desa juga aib “kita”.
Pada dasarnya pesan yang tersirat dalam tiap jenis kenduri di desa adalah mengkukuhkan makna kekitaan “kita”. Kesatuan sikap dan cita-cita bersama diteguhkan kembali. Dan bila ada —memang ada saja— keretakan kecil antara hati dengan hati, maka melalui kenduri persatuan diperketat. Dengan suapan nasi, bunyi dan isi doa, dan dengan salaman tangan yang tulus, yang retak itu ditambal dan menjadi utuh kembali.
Kenduri merupakan mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, dengan cara memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama, sekaligus melakukan kontrol sosial atas penyimpangan dari cita-cita bersama tadi. Kenduri sebagai suatu institusi sosial menampung dan merepresentasikan banyak kepentingan. Dan tiap “kita”, di sana, menemukan rasa aman. Dalam kenduri tak ada pihak yang kalah atau dikalahkan. Di sana semua pihak terhormat. Tiap orang menang, dan bahagia!!.

Manifestasi di lapangan
Tujuan dari kenduren itu sendiri adalah meminta selamat buat yang didoakan, dan keluarganya. Di beberapa daerah, kenduren itu sendiri bisa ditemui dengan jenis yang bermacam-macam, seperti:
1.    Kenduren wetonan (wedalan), dinamakan wetonan karena tujuannya untuk selametan pada hari lahir (weton, jawa) seseorang. Di beberapa tempat, kenduren jenis ini dilakukan oleh hampir setiap warga, biasanya satu keluarga satu weton yang dirayakan, yaitu yang paling tua atau dituakan dalam keluarga tersebut. Kenduren ini di lakukan secara rutinitas setiap selapan hari (1 bulan).
2.    Kenduren munggahan. Kenduren ini menurut cerita tujuannya untuk menaikkan para leluhur. Beberapa tempat di menybutnya sebagai selamaten pati, artinya kenduren ini ditujukan sebagai do’a untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kenduren tersebut. Bagi sebagaian orang kenduren ini juga biasanya dikenal sebagai kenduren/selamatan ke-7, ke-40, ke-100 dan ke-1000 hari wafatnya seseorang.
3.    Kenduren likuran. Kenduren ini dilaksanakan pada tanggal 21 bulan Ramadhan, yang di maksudkan untuk memperingati Nuzulul Qur’an.
4.    Kenduren badan (lebaran/mudunan). Kenduren ini dilaksanakan pada hari Raya Idul Fitri, pada tanggal 1 syawal (aboge). Kenduren ini sama seperti kenduren Likuran, konon hanya tujuannya yang berbeda yaitu untuk menurunkan leluhur. Yang membedakan hanya, sebelum kenduren badan, biasanya didahului dengan nyekar ke makam leluhur dari masing-masing keluarga.
5.    Kenduren ujar. Kenduren ini dilakukan oleh keluarga tertentu yang punya maksud atau tujuan tertentu, atau yang punya ujar/omong atau cita-cita. Kenduren ini juga sering dilakukan ketika seseorang telah memperoleh anugerah, seperti lulus sekolah, mendapatkan pekerjaan, naik jabatan dan lain sebagainya.
6.    Kenduren mauludan. Kenduren ini dilakukan pada tanggal 12 bulan Maulud. Dalam sebagian tradisi kenduren juga dilakukan dilakukan di hari-hari besar Islam.
Kerap kali kita jumpai dalam berbagai kesempatan di berbagai daerah mengenai ritual kenduri ini berbeda-beda, baik dalam bentuk nama, pelaksanaan, konsep yang dipakai bahkan menu sajiannya. Namun, dari kesekian macam ritual tersebut mempunyai nilai subtansi yang sama, yaitu berdo’a. Baik untuk sang empunya hajat maupun orang lain.
Munajat do’a inilah yang dahulu konon diperoleh dari dampak keluwesan dan dinamisasi ajaran-ajaran yang dibawah oleh walisongo dalam menyebarkan dawai-dawai sabda ilahi melalui produk ajaran-Nya, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Sublimasi Budaya dan Nilai Ritual Agama
Pengamat budaya dan sejarah Agus Sunyoto (http://www.antaranews.com) menegaskan bahwa budaya kenduri kematian yang dilakukan umat Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa bukan karena pengaruh Hindu atau Budha karena di kedua agama itu tidak ditemukan ajaran kenduri.
Agus menegaskan bahwa, dalam agama Hindu atau Budha tidak dikenal kenduri dan tidak pula dikenal peringatan orang mati pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000. Bahwa catatan sejarah menunjukkan orang Campa memperingati kematian seseorang pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 dan ke-1.000. Orang-orang Campa juga menjalankan peringatan khaul, peringatan hari Assyuro dan maulid Nabi Muhammad SAW.
Dari mencermati fakta tersebut, maka Agus berkeyakinan tradisi kenduri, termasuk khaul adalah tradisi khas Campa yang jelas-jelas terpengaruh faham Syi`ah. Demikian juga dengan perayaan 1 dan 10 Syuro, pembacaan kasidah-kasidah yang memuji-muji Nabi Muhammad menunjukkan keterkaitan tersebut.
Jika kita mau merunut sejarah, istilah kenduri itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena dipungut dari bahasa Persia, yakni Kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahroh, puteri Nabi Muhammad SAW.
Fenomena sublimasi nilai ritual dan budaya ini jika ditinjau dari aspek sosio-historis adalah dikarenakan munculnya tradisi kepercayaan di Nusantara ini banyak dipengaruhi oleh pengungsi dari Campa yang beragama Islam. Peristiwa yang terjadi pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 masehi itu rupanya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural religius di Majapahit khususnya dan di pulau Jawa pada umumnya.
Hal ini bisa dilacak melalui contoh kebiasaan orang Campa yang memanggil ibunya dengan sebutan “mak”, sedangkan orang-orang Majapahit kala itu menyebut “ibu” atau “ra-ina”. Di Surabaya dan sekitarnya, tempat Sunan Ampel menjadi raja, masyarakat memanggil ibunya dengan sebutan “mak”. Pengaruh kebiasaan Campa yang lain terlihat pula dalam cara orang memanggil kakaknya atau yang lebih tua dengan sebutan “kang”, sedangkan orang Majapahit kala itu memanggil dengan sebutan “raka”. Untuk adik, orang Campa menyebut “adhy”, sedangkan di Majapahit disebut “rayi”.
Pada dasarnya ada perbedaan diantara pengaruh muslim Cina dengan Campa di masa-masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit atau di era Wali Songo. Muslim Campa selama proses asimilasi melebur dengan penduduk setempat, hingga watak Campanya hilang dan berbaur dengan kejawaan. Sedangkan muslim Cina masih cukup kuat menunjukkan eksistensi kecinaannya sampai beberapa abad.


Semoga artikel Kenduren sebuah tradisi yng sangat merakyat bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter